Pagi berawan; dengan matahari tertutup kabut tipis dan embun berjatuhan di atas daun-daun kecil rumput gajah di pekarangan rumah:
Kopi padang grind halus, diseduh dari saringan; di atas 1 sendok teh brown sugar yang ditaruh dalam cangkir 50ml. Seduhan pertama diaduk dengan batangan cinnamon segar, dan serbuk cardamon sebagai pewangi. Nikmatnya sempurna ditemani sekeping kue jahe non sugar.
Harumnya uap pertama seduhan seperti aroma pinus yang terkena embun dini hari, yang menumpahkan kisi-kisi rujung bijinya dengan mentah ke atas tanah. Aroma tanah basah di pagi hari memberi tekanan pada pekat rasa dan tiris manis gula kelapa.
Hirup wangi segar dan tegukan pertama yang tipis akan mengeluarkan sensasi rasa yang sempurna: Ujung pahit yang bebas dari rasa lanjutan, kejutan panas dari minyak di permukaan, sedikit rasa manis hangus dari gula kelapa yang disiram didihan kopi, ditambah tekstur bubuk yang tertinggal bebas dari saringan.
Siang hari melelahkan, dengan penat kepala dan lengket kulit; ditambah polusi suara akibat bising aktivitas manusia yang aktif berkejaran dengan waktu:
Dua sendok besar kalosi toraja tanpa gula, diseduh tanpa saringan di sebuah cangkir seukuran gelas 250ml; ditemani sepotong chocolate brownies atau truffle, dengan lelehan keju di atasnya.
Uap harumnya yang mengembun di dalam hidung seperti aroma kayu potong di basahnya hujan, ditambah wangi gurih tanpa gangguan rasa; pure great coffee.. Hilang sudah segala penat di kepala dan pikiran tentang berjuta kemungkinan untuk seribu milidetik ke depan; karena yang ada hanya kekosongan sejenak, dari kerapatan aktivitas dan jemu yang menggantung.
Dan tarikan pertama tegukan panjangnya.. panjang… dan panjang lagi setelah yang pertama tertelan… Sensasi itu, hanya mungkin terasa nikmat dan lebih nikmat di saat yang tepat: Pahit keras yang tegas, merogoh dan menarik pikiran dari kepala; disusul panasnya didihan tengah yang belum tersapa udara luar, dengan sedikit asam rendah yang berbuih halus… halus dan menghalus. Rasa patah-patah karena sambungan tegukan hanya menambah tegasnya rasa.
Sore meremang, dengan sisa hujan di paruh lembayung dan gantung awan yang menutup matahari dengan pelan tapi pasti:
Dua sendok besar kopi aceh grind halus infusi daun ganja, diseduh dengan saringan di atas dua sendok gula kelapa; dengan cangkir teh seukuran 100ml. Minuman sore ini paling segar diakhiri one shot english breakfast tea suhu kamar di vodka glass.
Harumnya melegakan, beberapa detik selewat menghirup uapnya; seolah energi baru merasuk dengan mantap dalam setiap jelang aromanya. Harum ini halus, sehalus sirat herbal daun ganja yang menjadi pemanis.
Rasakan perlahan minyak yang membuih di permukaan, merekah seperti mentega leleh di atas balutan mozarella sepotong barilla. Kemudian perlahan tapi pasti, satu tegukan dalam yang mantap untuk rasa yang elegan: Panas membara yang halus di tenggorokan, disapu pekat asam yang timbul tenggelam. Pahitnya yang ramai, dan ringan rasa manis membuat tegukan panjang menjadi ranum… Lalu, satu tegukan cepat teh penutup.. Menyapu habis asam di ujung tepi papila lidah yang menuntut, dan melegakan rahang dari rasa yang melayang.
Malam meluruh, dingin dan sunyi; ditemani alunan melodi kesayangan dan inspirasi memenuhi rongga tengkorak yang dihuni otak:
Tiga sendok kopi samosir (tanpa label), dua sendok teh coklat bubuk, satu sendok teh krim dan dua sendok gula kelapa, diseduh bersamaan tanpa saringan di dalam mug gemuk bertutup, dengan taburan cinnamon dan nutmeg pewangi di atasnya. Ditemani ginger chocolate atau lapis legit pandan mentega ringan, dan segelas air bening sebagai selingan.
Harum yang keluar dari bukaan tutup mug setelah 2 menit menyeruak keluar seperti air keluar dari bendungan: tajam, ramai, penuh dan padat. Wanginya meluruh melemaskan otot; dan membawa saraf menuju kelegaan yang melelapkan.
Sentuhan papila pertama pada tekstur permukaannya seperti menyentuh letupan margarin yang hangat memabukkan; dan tegukan-tegukan berikutnya akan seperti candu yang tak dapat dilepas walau tak bisa dimantapkan, dengan selingan air atau coklat yang meleleh di ujung lidah: Lembut tajam kilatan minyak pekat begitu gurih, seperti menyentuh kejap-kejap ribuan rasa dalam satu suap. Pahit yang tidak terasa, tanpa asam atau bahkan kilas asam, dan manis yang seperti karamel; lebih gurih daripada manis. Gabungan kesat kopi dan muatan coklat yang energik; dicampur lembutnya rasa krim dan resapan gula kelapa yang berubah-ubah… Ginger chocolate yang menyeling rasanya meleleh di lidah, tersiram pahit hingga menimbulkan sengatan seperti tequila yang diminum dengan garam. Lalu air yang menyapu tekstur di lidah, tapi sama sekali tidak menghapus rasa…
Bandung, Maret 2008
Bandung, Maret 2008
No comments:
Post a Comment