Terik matahari memaksa seorang pengamen berhenti mencari nafkah, sementara sebuah mobil mengikutsertakan diri ke dalam padatnya antrean panjang. Di keremangan setengah fatamorgana, tiang-tiang listrik mencuat seperti sedotan panjang di jajaran pudding caramel, lengket oleh debu dan panas seperti potongan kabel sehabis korslet. Warna-warna memeriahkan tepi jalan yang dipadati reklame, jenuh oleh konvensionalitas berlebihan yang menawarkan efisiensi. Padat udara menyematkan aroma kakus dari gorong-gorong; di ujung sana seorang pemuda tak bercelana mungkin sedang menyembuhkan sakit perutnya, atau pipa-pipa pembuangan yang mencuat tanpa saluran memuntahkan alirannya. Ia mengamati dari samping etalase sebuah toko, dengan tangan kiri di bawah lembaran tebal dan tangan kanan yang menari dengan pensil karbon di atasnya.
Bandung, Januari 2007
Thursday, February 3, 2011
My Favorite Indonesian Coffee
Pagi berawan; dengan matahari tertutup kabut tipis dan embun berjatuhan di atas daun-daun kecil rumput gajah di pekarangan rumah:
Kopi padang grind halus, diseduh dari saringan; di atas 1 sendok teh brown sugar yang ditaruh dalam cangkir 50ml. Seduhan pertama diaduk dengan batangan cinnamon segar, dan serbuk cardamon sebagai pewangi. Nikmatnya sempurna ditemani sekeping kue jahe non sugar.
Harumnya uap pertama seduhan seperti aroma pinus yang terkena embun dini hari, yang menumpahkan kisi-kisi rujung bijinya dengan mentah ke atas tanah. Aroma tanah basah di pagi hari memberi tekanan pada pekat rasa dan tiris manis gula kelapa.
Hirup wangi segar dan tegukan pertama yang tipis akan mengeluarkan sensasi rasa yang sempurna: Ujung pahit yang bebas dari rasa lanjutan, kejutan panas dari minyak di permukaan, sedikit rasa manis hangus dari gula kelapa yang disiram didihan kopi, ditambah tekstur bubuk yang tertinggal bebas dari saringan.
Subscribe to:
Comments (Atom)