Situs Tersembunyi di Lereng Gunung Muria
Langit berawan. Matahari yang tiba-tiba agak ramah ternyata terselimuti awan hujan yang mengumpulkan kekuatan. Gumpal-gumpalan awan terbentuk cepat, sementara roda mobil melaju mengantar kami menyisir jalan itu untuk ketiga kalinya. Di lereng Gunung Muria itu, udara memang lebih bersahabat. Angin lembah yang membawa uap air waduk Seloromo dan Gunung Rowo melunakkan udara yang panas oleh teriknya matahari. Kami hanya beranjak beberapa kilometer jauhnya dari kabupaten Pati. Jalan aspal yang cukup baik ini dapat mengantar wisatawan yang tak seberapa menuju beberapa lokasi waduk dan pemandian di sekitar lereng gunung. Kanan-kiri jalan ramai oleh joglo-joglo penduduk, sebagian besar berdiri kokoh dengan konstruksi tradisional yang menawan.
Setelah beberapa sambungan telepon yang menyesatkan, pertanyaan yang membingungkan, petunjuk jalan yang nyaris-terbaca, dan beberapa putaran mobil, sebuah papan nama sekolah membawa kami ke tempat yang benar. Tulisan di papan petunjuk itu berbunyi: SDN Majapahit; di bawahnya terbaca samar "Rondole, Desa Muktiharjo - Kecamatan Margorejo". Di sisi lain jalan itu, sebuah papan petunjuk berbunyi "Rondole", tertulis tangan dengan huruf kapital seukuran panjang telunjuk. Di atasnya tertulis lebih kecil "Pintu Majapahit". Sebuah anak panah tergambar menunjuk ke jalan kecil yang cukup untuk mobil. Itu saja, titik.
Langit berawan. Matahari yang tiba-tiba agak ramah ternyata terselimuti awan hujan yang mengumpulkan kekuatan. Gumpal-gumpalan awan terbentuk cepat, sementara roda mobil melaju mengantar kami menyisir jalan itu untuk ketiga kalinya. Di lereng Gunung Muria itu, udara memang lebih bersahabat. Angin lembah yang membawa uap air waduk Seloromo dan Gunung Rowo melunakkan udara yang panas oleh teriknya matahari. Kami hanya beranjak beberapa kilometer jauhnya dari kabupaten Pati. Jalan aspal yang cukup baik ini dapat mengantar wisatawan yang tak seberapa menuju beberapa lokasi waduk dan pemandian di sekitar lereng gunung. Kanan-kiri jalan ramai oleh joglo-joglo penduduk, sebagian besar berdiri kokoh dengan konstruksi tradisional yang menawan.
Setelah beberapa sambungan telepon yang menyesatkan, pertanyaan yang membingungkan, petunjuk jalan yang nyaris-terbaca, dan beberapa putaran mobil, sebuah papan nama sekolah membawa kami ke tempat yang benar. Tulisan di papan petunjuk itu berbunyi: SDN Majapahit; di bawahnya terbaca samar "Rondole, Desa Muktiharjo - Kecamatan Margorejo". Di sisi lain jalan itu, sebuah papan petunjuk berbunyi "Rondole", tertulis tangan dengan huruf kapital seukuran panjang telunjuk. Di atasnya tertulis lebih kecil "Pintu Majapahit". Sebuah anak panah tergambar menunjuk ke jalan kecil yang cukup untuk mobil. Itu saja, titik.

